Balai Konservasi Artefak Desa adalah ide inovasi pendidikan yang bertujuan untuk memberdayakan masyarakat desa dalam pelestarian artefak sejarah yang ditemukan di lingkungan mereka. Konsep ini terinspirasi dari penelitian yang menunjukkan bahwa banyak peninggalan sejarah di desa-desa belum sepenuhnya teridentifikasi atau dilestarikan karena minimnya pengetahuan dan fasilitas konservasi. Dengan menjadikan balai desa sebagai pusat edukasi dan penyimpanan sementara artefak, masyarakat dapat belajar cara menangani temuan bersejarah secara benar sebelum diteruskan ke lembaga terkait. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan kesadaran warga terhadap warisan budaya mereka, tetapi juga membuka peluang bagi desa untuk mengembangkan wisata edukatif berbasis sejarah. Penelitian yang dilakukan di Tanjungmojo, Kecamatan Kangkung, Kendal, mengungkap bahwa masyarakat sering menemukan artefak tanpa mengetahui langkah yang tepat untuk pelestariannya. Oleh karena itu, Balai Konservasi Artefak Desa hadir sebagai solusi dengan menyediakan pelatihan dasar konservasi bagi warga dan sistem pelaporan penemuan artefak. Selain itu, balai ini dapat menjadi pusat informasi sejarah lokal yang mendorong keterlibatan akademisi, sejarawan, dan pemerintah dalam penelitian lebih lanjut. Dengan pendekatan ini, desa tidak hanya berperan sebagai penjaga sejarah, tetapi juga sebagai agen perubahan dalam memanfaatkan pendidikan untuk pelestarian budaya demi generasi mendatang. Sumber Penelitian: https://gtic.poltekparmedan.ac.id/index.php/gtic/article/view/202 Satria, H. D. (2025). UTILIZING VILLAGE HALLS AS AN ALTERNATIVE FOR CORSERVATION OF ANCIENT SITES IN THE VILLAGE. Annals of Geotourism, 1(1).
Badan Perencanaan, Penelitian dan Pengembangan Kabupaten Kendal.
Gedung A Lantai 1, Komplek Setda Kabupaten Kendal
Jl. Soekarno Hatta No. 193 Kendal
baperlitbang@kendalkab.go.id
(0294) – 381225